Tuesday, 13 August 2019

Populasi dan Sampel

Populasi adalah sekumpulan unsur atau elemen yang menjadi objek penelitian.

Contoh populasi:
- semua wanita di daerah pedesaan
- semua perusahaan yang jumlah buruhnya kurang dari lima ribu

Populasi bisa berupa:
- lembaga
- individu
- kelompok
- dokumen
- konsep  

Sampel adalah sebagian dari populasi.

Kunci dari teknik penarikan sampel adalah keterwakilan populasi (representatif), maksudnya, anggota/elemen dalam sampel dapat dianggap menggambarkan keadaan atau ciri populasinya.

Teknik penarikan sampel ada 2 jenis:
1. Penarikan sampel probabilita.
2. Penarikan sampel tidak probabilita atau nonprobabilita

Penarikan Sampel Probabilita

Pada penarikan sampel probabilita, setiap anggota populasi memiliki kesempatan yang sama  untuk dipilih sebagai sampel.

Syarat dari penarikan sampel probabilita ini adalah tersedianya daftar anggota populasi.

Beberapa jenis sampel probabilita:
1. Penarikan sampel secara random sederhana (simple random sampling
2. Penarikan sampel sistematis (systematic sampling)
3. Penarikan sampel stratifikasi (stratified sampling)
4. Penarikan sampel secara berkelompok (cluster sampling)  

1. Simple random sampling
Untuk populasi yang homogen. 

Ada dua cara penarikan:
a. Dengan cara mengundi anggota populasi
Digunakan untuk populasi yang tidak terlalu besar. 
b. Dengan mengundi berdasarkan tabel angka random
Digunakan untuk populasi yang besar.

Prosedur penggunaan simple random sampling, diawali dari pembentukan sampling frame oleh peneliti. Selanjutnya, dari sampling frame tersebut dipilih sampel yang dilakukan secara acak hingga terpenuhi jumlah sampel yang dibutuhkan.

2. Systematic sampling
Teknik systematic sampling ini memiliki kemiripan prosedur dengan teknik simple random sampling. Oleh karena itu, systematic sampling juga memerlukan sampling frame, dan proses pemilihan sampel dilaksanakan secara random. Namun, berbeda dengan simple random sampling, random dilakukan hanya untuk memilih sampel pertama. Sedangkan pemilihan sampel kedua, ketiga dan seterusnya dilakukan secara sistematis berdasarkan interval yang telah ditetapkan.

Prosedur systematic sampling adalah, pertama, disusun sampling frame. Kedua, peneliti menetapkan sampling interval (k) dengan menggunakan rumus N/n; dimana N adalah jumlah elemen dalam populasi dan n adalah jumlah sampel yang diperlukan. Ketiga, peneliti memilih sampel pertama (s1)secara random dari sampling frame. Keempat, peneliti memilih sampel kedua (S2), yaitu S1 + k. selanjutnya, peneliti memilih sampel sampai diperoleh jumlah sampel yang dibutuhkan dengan menambah nilai interval (k) pada setiap sampel sebelumnya.
Contoh:
Penggunaan systematic sampling untuk memilih 20 sampel dari populasi yang berisi 100 elemen, adalah sebagai berikut.
Pertama, susun sampling frame.
Kedua, tetapkan nilai k = 5.
Ketiga, tentukan sampel pertama secara random, misal diperoleh 6. Selanjutnya kita dapat menetukan sampel berikutnya adalah 11, 16, 21, 26, 31, 36, 41, 46, 51, 56, 61, 66, 71, 76, 81, 86, 91, 96, dan 1.

3. Stratified sampling
Jika peneliti memiliki informasi tambahan bahwa populasi sebenarnya terdiri dari beberapa subpopulasi atau strata, maka stratified sampling lebih cocok untuk memilih sampel penelitian. Sebagai contoh, penelitian akan dilakukan terhadap peserta kelas metodologi penelitian sosial yang semuanya berjumlah 80 orang. Informasi tambahan bagi peneliti adalah bahwa dari 80 orang tersebut 60 orang adalah perempuan dan sisanya laki-laki. Jika peneliti menganggap informasi ini penting untuk analisa, makastratified sampling lebih cocok digunakan untuk memilih sampel. 

Prosedur penggunaan stratified sampling adalah sebagai berikut:
Pertama, peneliti membagi populasi kedalam beberapa subpoplasi atau strata berdasarkan informasi yang didapat.
Kedua, peneliti merumuskan sampling frame pada masing-masing subpopulasi atau strata.
Ketiga, peneliti memilih sampel pada masing-masing subpopulasi atau strata dengan menggunakan simple random atau systematic sampling.

Dalam pemilihan sampel ini, proporsi jumlah sampel antar strata adalah sama dengan proporsi jumlah elemen antar strata (proporsional). Dengan demikian, jika telah ditetapkan bahwa 20 orang akan dipilih sebagai sampel penelitian pada kelas metodologi penelitian sosial yang jumlah elemennya adalah 80 orang, maka perbandingan jumlah sampel antara perempuan dan laki-laki adalah 60:20. Berdasarkan proporsi tersebut, selanjutnya diperoleh sampel untuk perempuan adalah 15 orang dan untuk laki-laki adalah 5 orang. 

Terkadang seorang peneliti memilih sampel dengan tidak melihat proporsi tersebut (tidak proporsional), sebagai contoh, pada kasus diatas ia memilih sampel laki-laki sejumlah 10 orang. Dalam kondisi demikian, maka hasil analisis tidak dapat digeneralisasikan secara langsung terhadap populasi tersebut. Selanjutnya, agar hasil analisis dapat digeneralisasikan, peneliti perlu melakukan pembobotan (weighting). Dalam contoh tersebut, karena jumlah sampel laki-laki dilipatduakan, maka jumlah sampel perempuan juga perlu dilipatduakan. Hasil akhir setelah pembobotan, jumlah sampel perempuan adalah 30 orang dan jumlah sampel laki-laki adalah 10 orang.

4. Cluster sampling
Cluster sampling disebut juga dengan area sampling. Cluster sampling ini digunakan ketika elemen dari populasi secara geografis tersebar luas sehingga sulit untuk disusun sampling frame. Keuntungan penggunaan teknik ini adalah menjadikan proses sampling lebih murah dan cepat daripada jika digunakan teknik simple random sampling. Akan tetapi, hasil dari cluster sampling ini pada umumnya kurang akurat dibandingkan simple random sampling. 

Adapun cluster adalah suatu unit yang berisi sekumpulan elemen-elemen populasi. Namun, terhadap populasi yang lebih tinggi, Cluster sendiri berkedudukan sebagai elemen dari populasi tersebut. Seoarang peneliti yang menggunakan cluster sampling, pertama-tama memilih sampel yang berbentuk cluster dari suatu populasi. Selanjutnya, dari tiap-tiap cluster sampel tersebut, diturunkan sampel yang berbentuk elemen. Sebagai contoh, pemilihan sampel pegawai pada suatu departemen yang pegawainya tersebar pada berbagai unit kerja yang juga tersebar secara geografis. Pada kasus ini, peneliti dapat menjadikan unit kerja sebagai cluster dan selanjutnya secara random memilih beberapa unit kerja sebagai sampel. Pada setiap Unit kerja yang terpilih tersebut kemudian seluruh pegawai dijadikan sampel penelitian.

Penarikan Sampel Nonprobabilita

Pada penarikan sampel nonprobabilita, setiap anggota populasi tidak memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel.

Sampling dengan menggunakan metode Non-probability tidak cocok bagi penelitian yang ditujukan untuk merumuskan generalisasi tentang karakter dari suatu populasi. Hal ini karena metode Non-probabilitysampling tidak didasarkan pada mekanisme yang random dalam pemilihan sampel penelitian. Pada Non-probability sampling ini sampel dipilih karena pertimbangan-pertimbangan non-random, seperti kesesuain sampel dengan kriteria-kriteria yang dirumuskan peneliti sesuai dengan tujuan penelitian. Sebagai contoh, penelitian yang ditujukan untuk mengetahui persepsi masyarakat desa tertentu terhadap kinerja aparatur desa. Pada penelitian tersebut, peneliti memilih sampel dengan tidak melalui mekanisme random, tetapi memilih beberapa orang di desa tersebut yang diyakini layak sebagai sampel dan dapat memberikan informasi yang dibutuhkan peneliti.

Beberapa jenis sampel nonprobabilita:
1. Penarikan sampel secara kebetulan (accidental sampling)
2. Penarikan sampel secara sengaja (purposive sampling)
3. Penarikan sampel jatah (quota sampling)
4. Penarikan sampel bola salju (snowball sampling)

1Accidental sampling
Contoh :
Peneliti ingin mengetahui kehidupan sosial anak jalanan di kota Medan. Secara kebetulan ia menemukan beberapa anak jalanan dan langsung dijadikan responden.

2. Purposive sampling
Contoh :
Peneliti ingin mengetahui sepak terjang perusahaan penyedia jasa tenaga kerja ilegal. Dalam mengumpulkan data, peneliti mendatangi pimpinan dan staf perusahaan sebagai pihak yang mengetahui proses pengiriman tenaga kerja tersebut.

3. Quota sampling
Quota sampling memilki pola yang hampir sama dengan stratified sampling. Peneliti, pertama-tama, memilahkan populasi dalam beberapa katagori. Selanjutnya, ditetapkan jumlah sampel pada masing-masing katagori tersebut.
Contoh:
Peneliti hendak mengetahui persepsi pelanggan suatu perpustakaan daerah tentang kinerja pelayanan perpustakaan tersebut. Peneliti kemudian mengelompokan pelanggan berdasarkan jenjang pendidikan, misal: PT, SLTA, SLTP, dan SD. Dari masing-masing katagori tersebut selanjutnya ditetapkan sampel sejumlah 20, 10,10, dan 10. Hal yang membedakan quota sampling dari stratified sampling adalah langkah setelah quota tersebut ditetapkan. Pada quota sampling, sampel dipilih dengan cara accidental

4. Snowball sampling 
Contoh :
Untuk mengetahui jaringan pengedar narkoba, peneliti cukup mencari seorang pengedar narkoba. Dari seorang pengedar narkoba tersebut peneliti mendapat informasi siapa lagi yang menjadi pengedar narkoba. Demikian seterusnya.



Referensi:
Malo, Manasse. 1986. Metode Penelitian Sosial, Modul 1-5. Jakarta: Karunika.
Populasi dan Sampelhttps://asropi.wordpress.com/tag/simple-random-sampling. 22 Oktober 2017.
Single-Stage Non-probability Sampling. https://asropi.wordpress.com/2008/10/16/single-stage-non-probability-sampling. 22 Oktober 2017

Perilaku Menyimpang

A. Pengertian Perilaku Menyimpang:
- tindakan yang tidak sesuai dengan norma-norma sosial. (Berry) 

Contoh :
Di daerah Aceh, wanita harus mengenakan jilbab. Bila ada wanita yang tidak mengenakan jilbab, berarti ia telah berperilaku menyimpang.


B. Faktor-faktor Penyebab Perilaku Menyimpang

1.  Longgar tidaknya nilai dan norma
2.  Genetika 
3.   Sosialisasi yang tidak sempurna : tidak mendapat pendidikan atau penanaman nilai dan norma secara utuh.  
Contoh :  
- Pada lembaga primer (keluarga), sosialisasi yang tidak sempurna sering terjadi karena perceraian suami istri. Karena suami istri bercerai, pendidikan norma anak terabaikan, akibatnya anak berperilaku menyimpang.

4.   Sosialisasi sub kebudayaan yang menyimpang : berinteraksi dengan kelompok yang menyimpang, sedikit demi sedikit terwarnai oleh nilai dan norma perilaku menyimpang, akhirnya berperilaku menyimpang.

Contoh :
- Seorang pemuda biasa bergaul dengan kelompok pemabuk, lama-lama ia ikut mabuk-mabukan.

Menurut Teori Differential Association yang dikemukakan oleh Edwin Sutherland,  perilaku menyimpang dipelajari dalam interaksi dengan orang-orang lain, dan orang tersebut mendapat perilaku menyimpang sebagai hasil interaksi yang dilakukannya dengan orang-orang yang berperilaku dengan kecenderungan melawan norma-norma hukum yang ada. 

5.   Sikap mental yang tidak sehat
6.   Ketidakharmonisan dalam keluarga
7.   Pelampiasan rasa kecewa
8.   Dorongan kebutuhan ekonomi
9    Pengaruh lingkungan dan media masa
10. Keinginan untuk dipuji
11. Ketidaksanggupan menyerap norma
12. Kesalahan dari keteladanan pemimpin
13. Memiliki misi membangun masyarakat
14. Lingkungan fisik/alam 
    

C. Bentuk-bentuk Perilaku Menyimpang

1. Berdasarkan frekuensi/sanksi/toleransi masyarakat:

a. Penyimpangan primer : bukan kebiasaan (baru dilakukan pertama kali)/sementara, sanksi ringan, dan masih dapat ditolerir oleh masyarakat.
Contoh :
- membunyikan petasan yang besar pada malam lebaran
- mengendarai motor di kampung dengan kecepatan tinggi

b. Penyimpangan sekunder : sudah menjadi kebiasaan, sanksi berat, dan tidak dapat ditolerir oleh masyarakat.
Contoh :
- perampokan
- mengedarkan narkoba

Menurut Teori Labeling yang dikemukakan Edwin Lemert, seseorang yang melakukan penyimpangan primer (penyimpangan pertama), kemudian ia dicap sesuai dengan penyimpangannya, akhirnya ia melakukan penyimpangan sekunder (penyimpangan terus-menerus).
Contoh : seorang siswa yang ketahuan menyontek (baru pertama kali), dicap oleh teman-temannya sebagai penyontek, akhirnya ia menjadi penyontek.

2. Berdasarkan sifatnya:

a. Penyimpangan positif
Penyimpangan positif merupakan penyimpangan yang terarah pada nilai-nilai sosial yang didambakan, meskipun cara yang dilakukan menyimpang dari norma yang berlaku. Contoh seorang ibu yang menjadi tukang ojek untuk menambah penghasilan keluarga.

b. Penyimpangan negatif
Penyimpangan negatif merupakan tindakan yang dipandang rendah, melanggar nilai-nilai sosial, dicela dan pelakunya tidak dapat ditolerir masyarakat. Contoh pembunuhan, pemerkosaan, pencurian dan sebagainya.  

3. Berdasarkan pelakunya:

a. Penyimpangan individual
Penyimpangan individual adalah penyimpangan yang dilakukan oleh seseorang atau individu tertentu terhadap norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Contoh: seseorang yang sendirian melakukan pencurian.


b. Penyimpangan kelompok
Penyimpangan kelompok adalah penyimpangan yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap norma-norma masyarakat. Contoh geng penjahat. 

  Macam-macam perilaku menyimpang
1. Tindakan kriminal (kejahatan) :
- pencurian, penganiayaan, pembunuhan, penipuan, pemerkosaan, perampokan 
- korupsi, makar, subversi, terorisme (kejahatan yang mengganggu keamanan dan kestabilan negara)
- berjudi, penyalahgunaan obat bius, mabuk-mabukan, hubungan seks yang tidak sah yang dilakukan secara sukarela (kejahatan tanpa korban)
- penjualan bayi dan perempuan ke luar negeri, jaringan narkoba internasional (kejahatan terorganisasi)
- penghindaran pajak, penggelapan uang perusahaan oleh pemilik perusahaan, pejabat negara yang melakukan korupsi (kejahatan kerah putih)
- suatu perusahaan membuang limbah racun ke sungai dan mengakibatkan penduduk sekitar mengalami berbagai jenis penyakit (kejahatan korporat)
2. Penyimpangan seksual : perzinahan, lesbianisme, homoseks, kumpul kebo, sodomi, transvestitisme, sadisme, pedophilia.
3. Pemakaian dan pengedaran obat terlarang
4. Penyimpangan gaya hidup 


 Pengertian sikap anti sosial:

sikap menolak norma yang berlaku di masyarakat.

Penyebab sikap anti sosial:
merasa norma yang dianutnya lebih benar daripada norma yang berlaku di masyarakat.

Contoh sikap anti sosial :
Seorang wanita menolak melaksanakan norma berpakaian yang sopan. Ia berpandangan bahwa berpakaian seksi adalah lebih baik untuk seorang wanita yang cantik.

"Dan jiwa serta penyempurnaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya."(Quran Surat Asy-Syams: 7-10)
____________


Referensi
Kun Maryati. Sosiologi, Jilid 1.
Niniek Sri Wahyuni dan Yusniati. 2007. Manusia dan Masyarakat. Jakarta : Ganeca Exact.
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Suntari, Sri dan Lilik Tahmidaten. Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran Sosiologi Sekolah Menengah Atas (SMA) Kelompok Kompetensi H. Jawa Timur: PPPPTK PKn dan IPS 
Soal UN Sosiologi SMA 2008, 2009, 2010
https://infosos.wordpress.com/kelas-x/perilaku-menyimpang. Dialses tanggal 28 Desember 2017.

Jenis Penelitian Sosial

Ada beragam jenis penelitian sosial ditinjau dari berbagai aspek.

Jenis-jenis penelitian sosial:

1. Berdasarkan hasil yang diperoleh:

- penelitian dasar
Penelitian dasar (basic research) disebut juga penelitian murni (pure research) atau penelitian pokok (fundamental research) adalah penelitian yang diperuntukan bagi pengembangan suatu ilmu pengetahuan sertadiarahkan pada pengembangan teori-teori yang ada atau menemukan teori baru.

- penelitian terapan
Penelitian terapan atau applied research dilakukan berkenaan dengan kenyataan-kenyataan praktis, penerapan, dan pengembangan ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh penelitian dasar dalam kehidupan nyata.

- penelitian evaluasi
Penelitian evaluatif pada dasarnya merupakan bagian dari penelitian terapan namun tujuannya dapat dibedakan dari penelitian terapan. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengukur keberhasilan suatu program, produk atau kegiatan tertentu


2. Berdasarkan bidang yang diteliti:
- penelitian sosial
- penelitian eksakta

3. Berdasarkan tempat penelitian:
- penelitian lapangan
- penelitian kepustakaan
- penelitian laboratorium

4. Berdasarkan teknik/metode yang digunakan:

a. Penelitian survei: bertujuan untuk memperoleh informasi yang sama atau sejenisnya dari berbagai kelompok atau orang dengan cara mengirimkan angket atau wawancara secara pribadi.

b. Penelitian eksperimen: penelitian yang memanipulasi (mengatur, merekayasa) atau mengontrol situasi alamiah buatan sesuai dengan tujuan penelitian.
Contoh: Menguji dua metode kegiatan belajar mengajar yang berbeda

c. Penelitian historis

d. Penelitian inquiri alamiah: bertujuan untuk memperoleh informasi secara langsung dari tingkah laku orang yang diamati atau diwawancarai.


5. Berdasarkan keilmiahannya:
- penelitian ilmiah
- penelitian non-ilmiah

6. Berdasarkan spesialisasi ilmu garapannya:
- penelitian bisnis
- penelitian komunikasi
- penelitian hukum
- penelitian pertanian
- penelitian ekonomi

7. Berdasarkan tujuan penelitiannya:

a. Penelitian eksploratif : menggali secara luas tentang sebab-sebab atau hal-hal yang mempengaruhi terjadinya sesuatu.

b. Penelitian development : mengembangkan dan meningkatkan mutu dengan percobaan dan penyempurnaan.

c. Penelitian verifikatif : mengecek kebenaran hasil penelitian lain.

d. Penelitian korelatif : menemukan ada tidaknya hubungan antara dua variabel atau lebih.

e. Penelitian komparatif : membandingkanpersamaan dan perbedaan dua atau lebih fakta-fakta dan sifat-sifat objek yang diteliti.

8. Berdasarkan kedalaman penelitiannya:

a. Penelitian eksploratif : bermaksud mengumpulkan lebih banyak informasi tentang suatu permasalahan tertentu, yang sangat sedikit sekali terdapat informasi mengenai permasalahan tersebut.

b. Penelitian deskriptif : memberikan gambaran suatu gejala sosial tertentu dan sudah ada informasi mengenai gejala sosial tersebut namun belum memadai.
Contoh:
Anton melakukan penelitian tentang ciri-ciri kehidupan sosial masyarakat suku Toraja di Sulawesi Selatan. Dalam penelitiannya ia menjelaskan tentang ciri-ciri sosial dan budaya masyarakat tersebut.

c. Penelitian eksplanatif : yang menjelaskan hubungan antara suatu gejala sosial dengan gejala sosial lain.

9. Berdasarkan waktu:

a. Penelitian longitudinal: penelitian yang meneliti perkembangan suatu aspek dalam jangka waktu panjang.

b. Penelitian cross section: penelitian yang meneliti perkembangan suatu aspek dalam tahap tertentu

Penelitian studi kasus: penelitian terhadap suatu objek/keadaan/peristiwa yang disebut sebagai kasus secara mendalam.

- Menggunakan key information (informan kunci) untuk mengontrol validitas data yang diperoleh

Penelitian tindakan adalah penelitian yang berorientasi pada penerapan tindakan dengan tujuan peningkatan mutu atau pemecahan masalah pada suatu kelompok subyek yang diteliti dan mengamati tingkat keberhasilan atau akibat tindakannya, untuk kemudian diberikan tindakan lanjutan yang bersifat penyempurnaan tindakan atau penyesuaian dengan kondisi dan situasi sehingga diperoleh hasil yang lebih baik.