Kamis, 12 Februari 2015

Konflik Sosial: Konflik anak-anak yang putus sekolah dikarenakan membantu orang tuanya

  Konflik Anak-anak yang Putus Sekolah dikarenakan Membantu Orang Tuanya 
  (oleh:Diajeng Salsabila Desideria)

    Banyak anak usia wajib belajar yang putus sekolah karena harus bekerja. Kondisi itu harus menjadi perhatian pemerintah karena anak usia wajib belajar mesti menyelesaikan  pendidikan SD-SMP tanpa hambatan, termasuk persoalan biaya. Berdasarkan data survei anak usia 10-17 tahun yang bekerja, seperti dilaporkan oleh Badan Pusat Statistik pada 2006, tercatat sebanyak 2,8 juta anak telah menjadi pekerja. Dari hasil studi tentang pekerja anak, ditemukan bahwa anak-anak usia 9-15 tahun terlibat dengan berbagai jenis pekerjaan yang  berakibat buruk terhadap kesehatan fisik, mental-emosional, dan seksual.
     Awalnya membantu orangtua, tetapi kemudian terjebak menjadi pekerja permanen. Mereka sering bolos sekolah dan akhirnya putus sekolah.   Bagi anak-anak miskin, Bantuan Operasional Sekolah (BOS) saja belum cukup. Pemerintah dan sekolah juga mesti memikirkan pemberian beasiswa tambahan untuk  pembelian seragam dan alat tulis, serta biaya transportasi dari rumah ke sekolah agar anak-anak usia wajib belajar tidak terbebani dengan biaya pendidikan


  • PENYEBAB:
Ø    Faktor internal :
a)  Dari dalam diri anak putus sekolah disebabkan malas untuk pergi sekolah karena merasa minder, tidak dapat bersosialisasi dengan     lingkungan sekolahnya, sering dicemoohkan karena tidak mampu membayar kewajiban  biaya sekolah atau dipengaruhi oleh berbagai     faktor
b)  Karena pengaruh teman.
        contohnya seperti ikut-ikutan diajak bermain seperti play stasion sampai akhirnya sering membolos dan tidak naik kelas, prestasi         di sekolah menurun dan malu pergi kembali ke sekolah.
c)   Anak yang kena sanksi karena mangkir sekolah sehingga mendapat Droup Out.

Ø    Faktor Eksternal
a)      Keadaan status ekonomi keluarga.
b)      Kurang Perhatian orang tua
c)      Hubungan orang tua kurang harmonis


Ø    Faktor Keluarga:
a)      Keadaan ekonomi keluarga.
b)      Latar belakang pendidikan ayah dan ibu.
c)      Status ayah dalam masyarakat dan dalam pekerjaan.
d)      Hubungan sosial psikologis antara orang tua dan antara anak dengan orang   tua.
e)      Aspirasi orang tua tentang pendidikan anak, serta perhatiannya terhadap    kegiatan belajar anak.
f)       Besarnya keluarga serta orang – orang yang berperan dalam keluarga.

  • SOLUSI:
Secara umum, solusi untuk mengatasi masalah ini dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu sistem panti dan sistem luar panti:

a) Sistem pelayanan dalam panti
Cara pelayanan sosial dilakukan melalui instutisi pemerintah maupun swasta dengan memberi pelayanan guna memenuhi seluruh kebutuhan dasar baik fisik maupun psikisnya meliputi pelayanan makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, rekreasi, kesehatan dan sebagianya. Pelayanan ini diarahkan pada terjadinya proses pembelajran sebagaimana layaknya pendidikan dalam keluarga yang utuh karena panti merupakan institusi yang berperan sebagai keluarga pengganti.
·        
     b)  Sistem pelayanan diluar panti
Pelayanan ini menitik beratkan pada cara pelayanan sosial yang berbasiskan masyarakat bagi anak diluar panti yang bersifat mengganti, memperkuat, dan melengkapi pelayanan sistem panti. Khususnya bagi anak-anak jalanan yang bentuk pelayanannya seperti rumah singgah dan mobil sahabat anak.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar