Sabtu, 10 Oktober 2015

Ketika Kerja Dakwah Kehilangan Pesonanya

Ketika Kerja Dakwah Kehilangan Pesonanya
--------------------------

SekolahMurabbi.com - Ketika program kerja kita kehilangan daya pesonanya, maka yang harus pertama sekali diintrospeksi adalah kondisi ruhiyah kita. Sudahkah niat kita lurus di jalanNya ataukah malah menyimpang entah ke mana? Sudahkah kerja kita maksimal ataukah hanya sekedar menuntaskan program kerja? Sudahkah amal ibadah kita meningkat ataukah telah stagnan lantaran sibuk mengerjakan program kerja?

Saudaraku, yang membedakan kerja-kerja dakwah dengan kerja-kerja berorientasi dunia adalah ruhiyah. Jangan antum mengira ruhiyah adalah salah satu faktor yang kedudukannya setara dengan yang lain. Ruhiyah adalah faktor terbesar. Tanpa kehadirannya, kerja-kerja dakwah takkan memiliki pesona apa-apa. Ia takkan memikat, takkan kuat dan karenanya takkan dibantu oleh Allah dan takkan menang.

Mari berkaca pada Thalut. Betapa ia begitu rapi menyeleksi pasukannya. Alquran mengisahkan bahwa yang ikut berperang dengannya sangat sedikit. Mereka yang lulus tes adalah orang-orang yang beriman dan meyakini bahwa kelak akan menjumpai Rabb mereka. Catat dua kata bertenaga itu: iman dan yakin. Bagaimana ini bisa diraih tanpa kekuatan ruhiyah? Lalu sejarah mencatat kelompok kecil ini akhirnya berhasil membungkam sesumbar armada perang Jalut.

Lihatlah lagi bagaimana Allah memenangkan mereka yang ikut bersama Rasul saw dalam perang Badar. Antum bayangkan, bagaimana mungkin logika kita menerima kenyataaan 313 orang beralat perang sederhana berhasil mengalahkan 1.000 pasukan terlatih dengan peralatan tempur yang lengkap? Tapi memang begitulah adanya, Rasulullah saw mentarbiyah mereka dengan baik sehingga iman menghunjam ke dalam lubuk hati mereka. Ruhiyahnya mantap. Slogannya menggentarkan musuh. Kalau masih hidup seusai perang, berarti mereka membawa pulang kemenangan. Kalau gugur di tengah jalan, mereka juga membawa kemenangan yang lebih dahsyat berupa surga dan bidadarinya.

Lihatlah sekali lagi kala Salahuddin Al-Ayyubi menaklukkan Konstantinopel, negara superpower di masanya. Siapa yang menjadi prajuritnya? Ya, mereka yang tak pernah tinggal shalat berjamaah sekalipun sejak akil baligh. Mereka yang tidak pernah ketinggalan tahajjud barang semalampun sejak akil baligh. Dan sebagainya. Ruhiyah mereka telah kuat sejak usia belia.

Bagaimana dengan kita? Mari introspeksi sekali lagi ruhiyah kita. Ketika semakin disibukkan oleh berbagai kegiatan yang kita menyebutnya 'kerja-kerja dakwah', apakah ruhiyah kita ikut-ikutan 'sibuk' atau malah terbengkalai?

Cukuplah sejarah menjadi pelajaran bagi kita bahwa kemenangan dakwah tidak ditentukan oleh berapa banyak pasukan atau berapa lengkap peralatan. Kemenangan hanyalah milik Allah dan Ia berhak memberikannya kepada siapa yang dikehendaki.

Zaman sekarang, kita tak berperang lagi. Tapi kemenangan bagi kita adalah ketika semakin banyak orang yang ter-shibghah pesona dakwah melalui tangan kita. Masalahnya, sekali lagi hidayah itu adalah urusan Allah. Seapik apapun rancangan kerja kita, jika Allah tak berkenan, maka ia akan sia-sia.

Lalu apa yang harus kita perbuat?

#MuhasabahDiri
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar