Minggu, 15 Mei 2016

Surat dari Pejuang Gaza untuk Kaum Muslim di Indonesia

Kenapa saya pilih kirim surat ini untuk kalian di Indonesia? Namun apabila kalian tetaplah kemukakan pertanyaan kepadaku, mungkin saja saja satu – satunya jawaban yang saya memiliki yakni karena negeri kalian berpenduduk muslim paling banyak di atas bumi ini, tidaklah sekian saudaraku?
Saat saya menunaikan beribadah haji setahun lebih silam, waktu pulang dari melempar jumrah, saya pernah berteman dengan salah seorang aktivis dakwah dari jama'ah haji asal Indonesia, ia memberikan kepadaku, masing-masing th. musim haji ada sekitaran 205 ribu jama'ah haji datang dari Indonesia datang ke Baitullah ini. Wah, sungguh jumlah angka yang sangat fantastis dan buat saya berdecak memuji bakal.
Lalu saya mengataka kepadanya, saudaraku, apabila jumlah jama'ah haji asal Gaza sejak mulai th. 1987 sampai sekarang di gabung, itu belum bisa menyamai jumlah jama'ah haji dari negara kalian dalam 1 musim haji saja. Walaupun sesungguhnya jarak tempat kami ke Baitullah lebih dekat ketimbang kalian. Waaah pasti uang kalian demikian banyak, khususnya menurut sahabatku itu ada 5% dari rombongan itu yang menunaikan ibadah haji yang ke dua kalinya, Subhanallah.
Wahai saudaraku di Indonesia, pernah saya berkhayal dalam hati, kenapa kami tidak dilahirkan di negeri kalian saja. Pasti sangat indah dan menakjubkan. Negeri kalian aman, kaya, dan subur, sedikitnya itu yang saya ketahui mengenai negeri kalian.
Pasti ibu – ibu disana begitu enteng menyusui bayi – bayinya, susu formula bayi pasti dengan ringan kalian dapatkan di toko – toko dan sebagian wanita hamil kalian mungkin saja saja dengan mudah bersalindi rumah sakit yang mereka kehendaki. Ini yang membuatku iri pada kamu saudaraku., tidak seperti di negeri kami ini. Kerap kali tentara Israel menahan mobil ambulance yang akan mengantarkan istri kami melahirkan di rumah sakit yang lebih lengkap alatnya di daerah Rafah. Sampai istri kami terpaksa melahirkan di atas mobil, saudaraku!
Susu formula bayi yakni barang langka di Gaza sejak mulai kami diblokade 2 th. waktu itu, namun istri kami masih menyusui bayi – bayinya dan menyapihnya hingga 2 th. lamanya, walaupun terkadang untuk bikin lancar ASI mereka, istri kami ikhlas minum air rendaman gandum.
Namun, mengapa di negeri kalian tuturnya banyak persoalan pembuangan bayi yg tak terang siapa ayah dan ibunya. Terkadang diketahui mati di parit – parit, selokan, dan tempat sampah. Itu yang kami dapat dari informasi di tv.
Dan yang buat saya terkejut dan merinding, kenyataannya negeri kalian yakni negeri yang tertinggi problem arbosinya untuk area Asia. Astaghfirullah. Ada apa dengan kalian? Apakah karena di negeri kalian tidak ada perseteruan bersenjata seperti kami disini, sampai orang bisa kerjakan hal hina seperti itu?
Kelihatannya kalian belum menghormati arti satu nyawa. Memang hampir keseharian di Gaza mulai sejak penyerangan Israel, kami lihat bayi – bayi kami mati. Namun, tidaklah di selokan – selokan atau got – got terlebih di tempat sampah. Mereka mati syahid saudaraku! Mati syahid berkat serangan roket Israel! Kami peroleh mereka tak bernyawa lagi di pangkuan ibunya, di bawah puing – puing bangunan hunian kami yang hancur oleh serangan Zionis Israel. Saudraku, buat kami nilai seorang bayi adaalh aset perjuangan kami pada penjajah Yahudi. Mereka yakni mata rantai yang akan menyambung perjuangan kami memerdekakan negeri ini.
Perlu kalian tahu, sejak mulai serangan Israel tanggal 27 Desember 2009 kemarin, saudara – saudara kami yang syahid sampai 1400 orang, 600 orang satu diantaranya yakni anak – anak kami. Akan tetapi sejak mulai penyerangan itu juga hingga hari ini, kami menyambut lahirnya 3000 bayi baru di jalur Gaza, dan subhanallah kebanyakan mereka yakni anak laki – laki dan banyak yang kembar, Allahu Akbar!
Wahai
saudaraku di
Indonesia, negeri kalian subur dan makmur, tanaman apa saja yang kalian tanam bakal tumbuh dan berbuah, namun demikian kenapa di
negeri kalian masihlah ada bayi yang kekurangan gizi, menderita busung lapar. Apa lantaran susah mencari rizki di sana? apa negeri kalian di blokade juga?
Butuh kalian kenali saudaraku, tak ada satupun bayi di Gaza yang menderita kekurangan gizi, terlebih hingga mati kelaparan, walaupun telah lama kami diblokade. Sungguh kalian sangat manja! Saya yaitu pegawai tata usaha di kantor pemerintahan HAMAS sudah 7 bln. ini belum terima upah bulanan saya. Namun Allah SWT yang bakal mencangkupkan rizki untuk kami.
Butuh kalian kenali juga, bln. ini saja ada sekitaran 300 gunakan pemuda barusan melangsungkan pernikahan. Ya mereka menikah di sela – sela serangan agresi Israel. Mereka mengucapkan akad nikah di antara bunyi letupan bom serta peluru, saudaraku. Serta perdana menteri kami Ust. Isma'il Haniya memberikan santunan awal pernikahan untuk semuanya keluarga baru itu.
Wahai saudaraku di Indonesia, terkadang sayapun iri, kalau saya dapat rasakan pengajian atau halaqah pembinaan di negeri antum (anda). Seperti yang dikisahkan rekan saya, program pengajian kalian tentu bagus, banyak kitab mungkin saja kalian yang sudah baca. Serta banyak buku – buku tentu telah kalian baca. Kalian juga bersemangat kan? itu lantaran kalian miliki saat.
Kami tak memiliki saat yang banyak di sini. Satu jam, ya satu jam itu yaitu saat yang dibanderol untuk kami di sini untuk halaqoh. Setelah itu kami mesti terjun ke lapangan jihad, sesuai sama pekerjaan yang didapatkan pada kami. Kami di sini begitu menanti- nantikan waktu halaqah itu walaupun cuma 1 jam. Pasti kalian bersukur. Kalian miliki saat untuk menegakkan rukun – rukun halaqah, seperti ta'aruf, tafahum serta takaful di sana.
Hafalan antum tentu semakin banyak dari pada kami. Semuanya pegawai serta pejuang hamas di sini harus mmenghafal Surah Al – Anfal sebagai nyanyian perang kami, saya menghafal di sela – sela wkatu istirahat perang, bagaimana dengan kalian?
Akhir desember kemarin, saya menghadiri acara wisuda penamatan hafalan 30 Juz anakku yang pertama. Ia adalah 1 diantara 100 anak yang tahun ini menghafal Al – Qur'an serta umurnya baru 10 th..
Saya meyakini anak – anak kalian tambah lebih cepat menghafal Al-Qur'an daripada anak – anak kami di sini. Di Gaza tak ada SDIT seperti ditempat kalian yang menebar seperti jamur di musim hujan. Di sini anak – anak belajar di antara puing – puing reruntuhan gedung yang hancur, yang tanahnya telah di ratakan, di atasnya di beri sebagian helai daun kurma.
Ya, ditempat itu mereka belajar, saudaraku. Bunyi setoran hafalan Qur'an mereka bergemuruh di antara bunyi – bunyi senapan tentara Israel. Ayat – ayat jihad paling cepat mereka hafal. Lantaran benar-benar di depan mereka tafsirnya, segera mereka rasakan. Oh iya, kami mesti berterima kasih pada kalian semuanya, lihat solidaritas yang kalian tunjukkan pada orang-orang dunia. Kami melihat tindakan demo – demo kalian. Subhanallah, kami begitu terhibur, lantaran kalian rasakan apa yang kami rasakan di sini.
Memanglah banyak orang-orang dunia yang menangisi kami disinim termasuk juga kalian yang di Indonesia. Tetapi, bukanlah tangisan kalian yang kami perlukan, saudaraku. Biarkanlah butiran air matamu yaitu catatan bukti akhirat yang dicatat Allah sebagai bukti ukhuwah kalian pada kami. Do'a – do'a serta dana sudah kami rasakan faedahnya.
Oh iya, hari makin larut, sebentar lagi yaitu giliran saya melindungi kantor, tugasku untuk menanti bila ada telpon serta fax yang masuk. Insya Allah, kelak saya menginginkan sambung dengan surat yang lain lagi.
Salam untuk semuanya pejuang –pejuang Islam, ulama – ulama serta calon Mujahidin – mujahidin kalian.
*Abdullah Gaza
Semua isi surat ini sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dari Bahasa Arab, yang di kirim oleh seseorang bernama Abdullah Al-Ghaza yang mengakui dari Gaza city-Jalur Gaza lewat surat elektronik serta artikel diterbitkan oleh Buletin Islami.
sumber: http://www.kabar-sehat.com/2016/05/surat-dari-pejuang-hamas-palestina-di.html
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar