Minggu, 13 Agustus 2017

Anda Kecewa Kepada Pimpinan atau Anggota Jamaah? Ini Jawabannya

*FOKUS PADA TUJUAN PERJUANGAN*

Ust. Khozin Abu Faqih Lc

-          Mari renungkan, kenapa kita bergabung dg jamaah dakwah ini?

-          Kita ini jamaah manusia sehingga kadang dalam interaksi sesama manusia, baik antara pimpinan dan anggota, baik sesama anggota, pasti ada ada unsur kekecewaan. Tapi coba kita renungkan, apakah kekecawaan kita terkait tidak dengan tujuan kita berjamaah? Jika tidak mengganggu, harusnya tidak mengganggu konsistensi kita dalam berjamaah.

-          Berbagai kasus di antara kita yang tidak lanjut bersama, ketika didatangi mengatakan kecewa. Tapi setelah ditelusuri, kekecewaannya tidak ada kaitannya dengan tujuan berjamaah.

-          Ada yang kecewa dengan seorang ustadz karena dalam mu'amalah tidak amanah. Lalu ia tidak ikut bersama lagi.  Ketika banyak fitnah terhadap dakwah, banyak yang kecewa. Lalu hadir kajian pekanan malas, berdakwah malas, ikut program kegiatan malas, dan lain-lain.  "Ngapain berjamaah jika pimpinannya begitu".

-          Ilustrasi begini. Ada orang yang shalat jamaah di masjid dengan ikhlash, hapus dosa, ingin pahala 27 derajat. Tapi ketika dia ingin melakukan shalat di masjid, 100 meter menjelang masjid dia ketemu dengan ketua DKM yang sedang pakai celana pendek, bersama seorang perempuan yang bukan mahramnya juga bercelana pendek. Gara-gara itu dia pulang ke rumah tidak jadi shalat jamaah. Sesuaikah dengan tujuan awal dia akan shalat berjamaah.

-          Ada juga yang 100 meter menjelang masjid, dapat WA tentang ketua DKM nya melakukan hal yang negatif. Padahal masih belum tentu karena hanya broadcast juga di WA. Tapi orang itu lalu pulang tidak jadi shalat.

-          Kadang juga kecewanya bukan dengan pimpinan, tapi dengan tokoh yang sudah menjadi pejabat publik. Lalu malas kajian, malas dakwah dan sebagainya.

-          Persoalannya, kira-kira kekecewaannya itu terkaitkah dengan tujuan berjamaah? Krena itu perlu sesekali kita bertanya diri kita semua, apakah dulu yang terbayang ketika akan bergabung dalam jamaah dakwah?

-          Apakah bergabung untuk menjadi pejabat publik? Apakah bergabung untuk menjadi pengurus? Lalu kalau tidak diberi amanah jabatan publik, atau kalau tidak diberi amanah di struktur mutung?

-          Sebenarnya, jangankan kita, para sahabat saja pernah kecewa. Tidak hanya pemula, muda, tapi bahkan level ahli bahkan di atasnya, bisa kecewa. Para sahabat juga pernah kecewa.  Di kasus Hunain, ada sahabat yang kecewa terkait pembagian ghanimah. Persoalannya bukan mereka mendapat ghanimah atau tidak. Tapi mereka merasa kecewa karena sepertinya Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam sudah lebih dekat dengan kaum Muhajirin.  Rasul kemudian menemui para sahabat Anshar dan menegaskan awal perjuangan dakwah, awal kebersamaan beliau dengan kaum Anshar, awal tujuan mereka berdakwah... hingga akhirnya para sahabat sadar dan menangis. Ini yang kecewa adalah sahabat-sahabat senior. 

-          Alhamdulillah bersama jamaah ini kita merasakan bagaimana bertadhiyah, kita merasakan indahnya tilawah quran, merasakan bagaimana indahnya qiyamul lail, kita merasakan bagaimana indahnya dinamika dakwah menyeru kepada Allah...

-          Ada contoh lain dalam Surat Al-anfal. Jika kita ingin kasih judul, judulnya adalah kemenangan jangan sampai merusak keimanan dan persaudaraan. Dua ayat yang ditutup dengan ulaikal muminuna haqqa , dua duanya, terikat dengan keimanan dan persaudaraan. Yang memasalahkan ghanimah siapa? Pasukan Badar kan. Pasukan Badar yang sudah dibangga banggakan oleh Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallamdan mereka assabiqunal awwalun. Tapi mereka manusia. Ketika itu pasukan islam terbagi tiga, ada yang mengejar musuh, menjaga ghanimah dan melindungi Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam. Seperti ada tim pemenangan, tim fundrising, tim riayah maknawiyah (kaderisasi). Ketika ghanimah kumpul, masing2 merasa yang paling berjasa mendapat ghanimah. Ini mereka ashabu badr.  Akhirnya dijawab oleh Allah dengan firman-NYA, "Qulil anfaalu lillahi wa rasuulih." Kalau kita berselisih pada sesuatu tinggalkan perselisihan, kembali pada Allah dulu, kembali ke tujuan semula. Pembagian ghanimahnya tidak langsung di jawab di satu ayat. Tapi diingatkan tentang keimanan persaudaraan. Baru soal pembagian ghanimahnya, di ayat yang lain. 

-          Kenapa kita berjamaah dakwah? Untuk apa?  Jawabannya adalah karena Allah menyukai orang-orang beriman yang melakukan perjuangan di jalanNYA dalam satu barisan, seperti bangunan yang tersusun kokoh. _"Innallaaha yuhibbulladziina yuqootiluuna fi sabilihi shaffan.. kaannahum bunyanun marshush.. "_ 

-          Kata _shaffan_, barisan. Barisan itu, kadang penempatan dalam barisan kadang tidak mesti terkait dengan keilmuan. Kadang yang tinggi belakang, pendek belakang. Kadang karena baju putih depan, hitam di belakang. Kadang krn warna kulit bisa saja. Tapi yang penting adalah tetap barisan shaffan. Tidak selalu yang di depan itu harus begini begini.

-          Lihat dalam karnaval itu. Siapa yang ada di depan itu tergantung penilaiannya apa. Kita siap berada di mana saja kalau ingin tetap dalam barisan. _Kaannahum bunyaanum marshush_. Seperti bangunan yang kokoh, artinya barisan ini harus benar benar rapih. Logikanya kalau bangun materialnya kita pilh pilih. Tidak semua pasir digunakan tapi diayak dulu. Bata juga disortir dulu, kayu juga ada yang perlu dipotong dan diserut sehingga _bunyan marsush_. 

-          Tujuan dalam berjamaah ini adalah, _fauzun Azhiiim.. tunjiikum min azaabin aliiim, yaghriflakum, yudkhilukum jannat tajriimin tahtihal anhar... _Ini fokus tujuan jihad dalam berjamaah. _Wa fii dzalika fal yatanaafasil mutanaafisuun_. Kalau tujuan berjamaah untuk tujuan akhirat, maka posisi di manapun di dunia juga seharusnya tidak ada masalah.

-          Ada tujuan lain, _nashrun minallah wa fathun qariib_. Ini target duniawi yang terlihat dengan mata kita. Dalam sejarah tidak satupun pejuang yang minta kalahkan dakwah. Artinya kalau berjuang ingin menang. Jangan sampai juga punya keinginan mau kalah asal terhormat. Itu bukan target pejuang. Maka _wanshurnaa alal kaumil kafirin_.

-          Tapi ternyata setiap kemenangan berimplikasi pada akses dan otoritas.  Karena itu kemenangan yang diberikan Allah, terkadang bisa _fauzun azhiim_ tapi kadang bisa membelokkan dari tujuan utama. Meskipun tetap saja setiap pejuang harus punya cita cita menang, dan ketika diberikan kemenangan, harus menjadi _fauzun azhim_ dan tidak bisa juga membelokkan kita ke arah lain. Ini yang harus diwaspadai.
 
-          Harus diakui  dulu posisi kedudukan jabatan tidak menentukan akses dan otoritas. Tapi perkembangan dakwah saat ini seolah menyebutkan, prestasi menentukan posisi, jabatan menunjukkan prestasi, dan ini ternyata telah merubah orientasi _istibaaq_ perlombaan yang ada.

-          Suatu saat ada info akan datang kafilah dagang. Rasul shallallaahu alaihi wa sallam mengatakan sepertinya kalian para sahabat sudah mendengar bahwa ada harta datang dari Bahrain. Kemudian beliau mengatakan, "Demi Allah.. yang aku khawatirkan adalah ketika dunia dibentangkan pada kalian, kalian berlomba dan kalian saling membinasakan." Lihat ... di sini spektrum perlombaan bergeser.

-          Manusia itu, memang fitrahnya suka dengan harta. _wa innahu lihubbil khairi la syadiiid... _ Mendapatkan harta lebih disukai daripada memberi harta. Jika kita diberikan 20 juta. Seneng ngga?  Tapi bandingkan jika jamaah dakwah ini menyampaikan kita wajib membayar infaq tambahan sebagai dana pemenangan per anggota 100 rb. Beda ngga?

-          Bukankah kita bergabung dengan jamaah dakwah ini untuk bertadhiyah? Bukan untuk mendapatkan harta? Karenanya selama kita masih bisa berjihad bertadhiyah mau dapat atau tidak, itu tidak ada urusan. Jangan dianggap kalau dapat harta itu kehormatan, belum tentu. Kebalikannya jg gitu.

-          Mungkin kita dengar ada sahabat abdurrahman bin auf.. beliau datang ke Madinah tidak punya apa apa. Ditawarkan Saad bin Rabi separuh hartanya, dan ditawarin menikahi isterinya... tapi jawabannya adalah _baarakallahu fika wa ahlik. Walaakin dullani alassuuq..._ semoga Allah berkahi dirimu dan keluargamu. Tapi tunjukkanlah kepadaku di mana pasar. Pasar yang ketika itu dikuasai Yahudi dan dia tidak punya modal. Tapi kemudian beliau ditolong Allah menjadi saudagar terbesar.. beliau menguasai pasar.

-          Suatu ketika Abdurrahman bin Auf menangis karena ingat Musab bin Umair, yang wafat syahid dalam kondisi sangat memprihatinkan secara duniawi. Pakaian kafannya saja tdak cukup menutupi jenazahnya. Siapa Mus'ab? Sebelum bergabung dengan dakwah dia pemuda luar biasa. Ketika berislam dia diboikot oleh keluarganya.  Abdurrahman bin auf khawatir menangis karena khawatir balasan amalnya dari Allah dicukupkan di dunia saja melalui limpahan harta. 

-          Kalau kita bergabung dalam jamaah dakwah lalu kita mendapat karunia dari Allah jadi punya mobil, ingat itu adalah tambahan modal dari Allah, jangan anggap bonus. Makin ditambah modalnya harus makin banyak benefit yang diberikan untuk dakwah.

-          Dahulu para sahabat cemburu dengan sahabat lain yang secara financial lebih baik. Bukan karena financialnya mererka cemburu tapi karen amal kebaikannya. Mereka bisa berdzikir dan beribadah sama dengan yang lain, tapi mereka mendapat kelebihan bisa berinfaq lebih besar dari yang lain. Bisakah kita yang diberi karunia finansial, jabatan, membuat saudara saudara kita cemburu bukan karena finansial kita, tapi karena keshalihan dan kebaikan kita?
 
-          Apakah kita bikin ikhwah cemburu pada finansial dan jabatan kita... enak punya jabatan tidak ikut kajian pekanan tidak apa-apa, tidak ikut kegiatan dimaklumi, dll.  Jika demikian, kita bukan berlomba meraih surga tapi berlomba dengan gesekan keduniaan. Dan esensi perlombaan akhirat sudah berubah.

*Pertanyaan kembali, renungkan kembali mengapa kita bergabung dalam jamaah dakwah?*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar