Blog ragam info bermanfaat

Mengapa Terjadi Perpecahan di PKS


Mengapa Terjadi Perpecahan di PKS?

Paparan Abdullah Ulwan:
..................
Sementara disisi lain, ada penumpang gelap dan spionase profesional yang mengacak ngacak, melakukan pembelahan, mencerai beraikan ukhuwwah dan membangkitkan kebencian antar awak dan penumpang kapal. Mereka melakukanya scr profesional layaknya inteljen negara.

Mereka melakukan dua langkah; yaitu pembelahan dan berujung pada tamhish ( pembersihan).
Pembelahan pertama dilakukan mulai tahun 2009 dengan menebar issu faksi keadilan (hidup sederhana) dan faksi kesejahteraan ( dianggap borjois).

Hasilnya luar biasa..!!

Penumpang mulai terbelah, mulai muncul dzon dan curiga di internal kapal. bahkan ditebar cerita cerita fiktif berbau fitnah. Padahal mereka yang di masukkan faksi keadilan, dicitrakan hidup sederhana, sekarang sudah berubah hidupnya 190 derajat, pake mobil alphart, rumah mewah, dll. Jadi, issu faksi keadilan dan kesejahteraan hanya issu buatan agar terjadi polarisasi dan friksi di internal kapal.

Efek issu tsb hingga menjangkit ke para penumpang kapal lain. Mereka tepuk riang gembira, dan mulai tak tsiqoh bahwa ternyata kapal itu sama saja, gak ada beda dengan kapal lain.

Akibatnya plafon kapal ini terbatas..!! Kecepatanya melemah, dan tak mudah bisa mencapai dermaga tujuan.

Upaya pembelahan dan pembersihan terus dilakukan.

Suatu saat, usai rapat pleno awak inti kapal ( ada maha kapten, kapten, sekretaris kapten, dan lainnya), sang maha kapten memerintahkan kepada kapten kapal agar sekretaris kapal beserta orang orangnya disingkirkan. Sang sekretaris mendengar sendiri perintah itu, krn Sang maha kapten tidak sadar bahwa sang sekretaris kapal mash ada di ruangan tsb tetapi tidak terlihat. Itu terjadi cukup lama, sebelum sang kapten kapal di sergap bajak laut.

Atas perintah tsb, sang kapten kapal mulai melakukan rencananya. Mulai Membatasi wewenang sekretaris dan menggeser orang orangnya sekretaris kapal di pos pos pinggiran. Bahkan mencatat siapa awak dan penumpang kapal yang sering masuk di ruangan kerja sang skretaris dan kemudian di iqob dengan di preteli posisinya. Salah satunya mencopot posisi dua orang ketua wilayah deck kapal jatijaya krn ketahuan sering masuk ke ruang kerja sekteraris.

Jadi, Hanya karena masuk ke ruang kerja sekretaris kapal mereka di copot jabatanya.

Tidak itu saja, saat ada acara Rakornas awak kapal di suatu tempat sang nahkoda memerintahkan kepada panitia agar mencopot semua baliho dan banner sekretaris kapal. Sesuatu yang biasa terjadi bila ada acara dimana gambar kapten dan sekretaris kapal selalu berdampingan. Namun, sang kapten tak menghendaki gambar sekretaris kapal muncul.

Tidak itu saja, sang sekretaris dan anggotanya dilarang masuk dan mengikuti acara tsb, padahal mereka sudah hadir. akhirnya sang sekretaris dkk hanya keliling keliling kota.

Pada 2013, saat sang kapten kapal di sekap bajak laut, maka terjadilah pergantian kapten kapal. Nyaris saja kapal tenggelam tetapi alhamdulilah bisa diselamatkan.

Dan hebatnya, selama masa kepemimpinan kapten baru tsb, tak ada satu awakpun yang disingkirkan, tak ada pergantian posisi kepengurusan, semua di rangkul. Andai sang kapten baru type pemimpin kerdil dan pendendam, maka pastilah mereka yang dulu mendholiminya akan diganti. Tapi semua itu tak terjadi. Sang kapten fokus menyelematkan kapal yang nyaris karam, fokus membangun kepercayaan diri penumpang, fokus agak kapal cepat sampai di dermaga tujuan dengan selamat.

Kemudian, 2014 ada pergantian kapten. Tentu, terpilih kapten baru dan sekretaris baru ( yang sekarang beliau sudah almarhum).

Pada periode inilah puncak pembelahan dan tamhish.

Meski sebagai sekretaris, almarhum tidak diberi peran. Pembahasan awak kapal wilayah ( dptw) saja tidak dilibatkan, hanya di suruh tanda tangan. Demikain juga dalam acara acara besar seperti rakornas awak kapal, sang sektetaris tersisih, tempat duduknya pun di tempat duduk belakang. Tak ada anggung untuknya, apalagi sekedar bicara di depan hadirin. Ini semua fakta bukan fitnah.

Sang mantan kapal, yang berjasa menyelamatkan kapal dari guncangan gelombang hebat, pun dilarang bertemu atau hanya sekedar menyapa para penumpang yang dulu ikut membersamainya dalam menyelamatkan kapal.

Banyak alasan mengapa dlarang?, mereka beralasan karena menghindari wala’ syahsi. Padahal, justru mereka telah melakukan baro ‘ syahsi yang amat dilarang agama. Sementara wala’ syahsi, mencintai dan mengagumi seseorang masih diperbolehkan jika tidak sampai mengkultuskan. Larangan larangan ini sudah terjadi jauh sebelum ada pelatihan2 pencerahan para penumpang.

Tidak itu saja, sang mantan kapten yang terpilih sebagai capres laut, dilarang deklarasi, dan menemui penumpang. Padahal capres laut lainnya melenggang bebas deklarasi bahkan bertemu penumpang di wilayah wilayah.

Hingga puncaknya dari tamhis ini adalah mencopotan awak kapal wilayah dan daerah yang sebelumnya didahului dengan labelisasi; siapa awak kapal dan penumpang yang warna merah, kuning dan hijau. Yang merah, harus di jeburkan ke laut setelah di copot semua pangkat dan jabatanya. Sebelumnya, mereka terlebih dulu pemencemplungkan salah satu awak kapal ( FH) kedasar lautan, tanpa alasan signifikan yang bisa dipahami penumpang dan publik.

Jadi, riak riak dan kegaduhan yang terjadi didalam kapal bukanlah hal yang wajar tetapi by design, ada tangan tangan luar yang menggunakan kekuasaan internal kapal untuk menghancurkan kapal. Dimulai demgan menyingkirkan kapten, awak kapal dan penumpang yang terbukti selama ini berjasa menyelamatkan kapal. Sehingga, jika mereka tersingkir, maka amat mudah tangan tangan luar menenggelamkan kapal, atau setidaknya kapal besar diubah menjadi kapal sekoci.
.............................
(https://www.albyna.com/2018/11/ini-bukan-soal-kapal-kami-akan-tenggelam/)


Cerita Mahfudz Siddiq:

Mahfudz Siddiq, kader Partai Keadilan Sejahtera, blak-blakan kepada Tirtomengenai konflik internal di partainya. Muasalnya sejak Agustus 2015 ketika partai yang semula bernama Partai Keadilan ini mengganti Hilmi Aminuddin sebagai Ketua Majelis Syuro.

Upaya pembaharuan yang diinisiasi oleh Anis Matta menjadi bumerang. Ada upaya menyingkirkan Anis dan para loyalisnya menjelang pemilihan presiden 2019, menurut Mahfudz. Indikasinya, muncul surat edaran bertandatangan Presiden PKS Sohibul Iman dilampiri dua formulir yang meminta loyalitas legislator pada partai.

Dua formulir ini meminta para legislator, baik di parlemen daerah dan pusat, bersedia diganti sewaktu-waktu dan mengundurkan diri dengan tanggal kosong. Kedua surat ini mengikat karena harus ditandatangani dengan cap materai.

Pada saat konflik internal mencuat, beredar dokumen berjudul “Mewaspadai Gerakan Mengkudeta PKS” tanpa jelas siapa pembuatnya. Dokumen ini dibuat pada 25 Maret 2018 dan sudah menyebar ke para petinggi PKS. Dokumen ini berisi paparan modus kerja gerakan mengkudeta PKS oleh Anis Matta dan bagaimana menanggulangi gerakan tersebut.

“Orang-orang yang disebut sebagai loyalis Anis Matta ini banyak yang menjadi petahana di DPRD,” kata Mahfudz, yang juga lingkaran Anis Matta. “Kebanyakan basis sosialnya kuat, karena mungkin sudah dua kali masa jabatan.”

Mahfudz sendiri adalah kader potensial PKS yang akhirnya dicoret dari daftar caleg PKS yang diajukan ke Komisi Pemilihan Umum, Selasa kemarin. Ia sudah hampir 15 tahun menjadi anggota DPR. Nama Mahfudz tidak lagi tercatat sebagai caleg PKS meski ia tidak pernah menyatakan mengundurkan diri.

Menurutnya, pembersihan kelompok Anis Matta dilakukan oleh DPP PKS lewat unit intelijen PKS yang dikembangkan oleh Suripto, mantan anggota Badan Intelijen Negara didikan Benny Moerdani.

"Ustaz Hilmi Aminuddin memang memperkuat unit intelijen yang dibuat oleh Pak Suripto," kata Mahfudz. "Kebetulan saya tujuh tahun di Komisi I, mitranya orang BIN, jadi paham."

(https://tirto.id/ada-operasi-intelijen-di-pks-cPlJ)
(Gambar: @PKSejahtera)
Tag : PKS
0 Komentar untuk " Mengapa Terjadi Perpecahan di PKS "

Back To Top