Tuesday, 9 July 2019

Ustadz Muhammad Ardiansyah: Thalabul 'Ilmi, Tahshilul' Ilmi dan Barakatul 'Ilmi

Berikut penjelasan Ustadz Muhammad Ardiansyah tentang Thalabul 'Ilmi, Tahshilul' Ilmi dan Barakatul 'Ilmi.

Thalabul 'Ilmi, Tahshilul' Ilmi dan Barakatul 'Ilmi

Thalabul ilmi artinya menuntut ilmu. Bagi setiap Muslim, laki atau perempuan, wajib hukumnya. Apakah semua ilmu? Tentu tidak. Karena ilmu itu banyak, sedangkan waktu kita sedikit (al-' Ilmu katsir wal waqtu qashir). Jangankan hanya hidup puluhan tahun. Andaikan hidup ribuan tahun pun, takkan ada yang mampu menguasai semua ilmu. Begitu dawuh Imam Syafi'i rahimahullah. Oleh karena itu, ulama membuat klasifikasi ilmu. Ada yang fardhu' ain, ada yang fardhu kifayah. Ilmu yang fardhu 'ain wajib atas setiap Muslim. Ilmu yang fardhu kifayah, wajib bagi sebagian Muslim. Jika satu orang sudah mempelajari, maka yang lain gugur kewajibannya. Tapi jika tidak ada satupun yang mempelajari, maka dosanya dipikul bersama.

Menurut Imam al-Ghazali, ilmu fardhu 'ain itu mencakup tiga hal. Ilmu aqidah untuk menjaga keyakinan kita. Dari paham dan pemikiran yang nyeleneh dan menyimpang. Kalau dulu ada pemikiran Syi'ah, Mu'tazilah, Khawarij, maka sekarang ada sekulerisme, plularisme, liberalisme wa akhawatuha. Umat Islam wajib membentengi imannya dengan ilmu agar tidak latah, minder, lalu taklid buta dan ikut menyebarkannya.

Berikutnya yang wajib dipelajari adalah ilmu terkait dengan amal. Ada yang wajib dikerjakan seperti shalat, puasa, berdagang dan sebagainya. Ada juga amal yang wajib ditinggalkan, seperti berjudi, mabuk dan berzina. Untuk mengerjakan amal kebaikan harus ada ilmu. Amal tanpa ilmu akan sia-sia. Seperti dawuh Syekh Ibn Ruslan dalam Zubadnya.

فكل من بغير علم يعمل # أعماله مردودة لا تقبل

Setiap orang beramal tanpa ilmu, amalnya itu akan ditolak, tidak diterima.

 Pun demikian untuk menjauhi amal buruk perlu ilmu. Kata Imam al-Ghazali,

عرفت الشر لا للشر ولكن لتوقيه # فمن لم يعرف الشر من الخير يقع فيه

Aku mengetahui yang buruk, bukan untuk berbuat buruk, tapi untuk menjaga diri darinya. Sebab orang yang tidak mengetahui yang buruk di antara yang baik, dia akan jatuh ke perbuatan buruk itu.

Ketiga, ilmu tentang kondisi jiwa. Ilmu ini juga wajib dipelajari agar kita tidak sakit jiwa. Banyak orang menyangka bahwa orang sakit jiwa itu ada di rumah sakit jiwa. Padahal banyak orang sakit jiwa tapi tidak menyadarinya. Di dalam jiwanya ada sifat takabbur, riya', atau hubbub dunya. Kalau demikian, jiwanya harus diobati dengan ilmu agar menjadi tawadhu', ikhlas dan zuhud.

Ilmu fardhu 'ain ini tidak statis. Tapi terus berkembang mengikuti keadaan seseorang di setiap tempat dan waktu. Itulah sebabnya, Imam al-Zarnuji menyebut ilmu ini dengan ilmu al-haal. Jika kondisinya berubah, maka kewajiban mempelajari ilmunya juga akan berubah. Misalnya, jika tahun ini belum ada kewajiban haji, maka tidak masalah jika belum belajar manasik haji. Namun jika lima tahun kemudian dia mendapat kesempatan berangkat haji, maka ketika itulah dia wajib belajar manasik haji.

Adapun ilmu-ilmu yang fardhu kifayah, jumlahnya sangat banyak. Tidak mungkin ditulis semuanya di sini. Intinya, ilmu fardhu kifayah itu wajib dipelajari sebagian Muslim, sesuai dengan kebutuhan umat. Jika umat membutuhkan dokter, maka wajib ada yang belajar ilmu kedokteran. Jika umat memerlukan seorang ahli IT, maka wajib ada yang belajar ilmu IT. Jika umat menanti kehadiran seorang ulama, maka wajib ada yang serius mendalami ilmu-ilmu agama. Begitulah seterusnya, silakan diqiyas sendiri.

Adapun tahshilul 'ilmi artinya mendapatkan ilmu. Ini bukan kewajiban kita. Karena ini adalah hak Allah SWT. Jika sudah belajar, tapi belum paham, maka kita tidak berdosa. Memang begitulah ilmu. Kadang ada yang sekali dipelajari bisa langsung dipahami. Ada yang dua atau tiga kali baru bisa dipahami. Bahkan ada yang puluhan kali baru bisa dipahami. Itu semua sesuai dengan kehendak Allah SWT. Ibn Atha'illah mengatakan dalam Hikamnya

لا يكن تأخر أمد العطاء مع الإلحاح في الدعاء موجبا ليأسك. فهو ضامن لك الإجابة فيما يختاره لك لا فيما تختاره لنفسك، في الوقت الذي يريد، لا في الوقت الذي تريد

Jangan sampai tertundanya karunia Allah kepadamu, setelah berulang-ulang berdoa, membuatmu jadi putus asa. Karena dia menjamin terkabulnya doamu sesuai pilihan-Nya untukmu, bukan sesuai pilihanmu, pada waktu yang diinginkan-Nya, bukan pada waktu yang kau inginkan.

Pengalaman seperti ini pernah dialami oleh al-Rabi' ketika belajar kepada Imam Syafi'i. Juga pernah dirasakan oleh Ibn Sina ketika membaca buku Aristoles. Pemahaman itu Allah berikan kepada mereka, setelah melewati proses thalabul ilmu puluhan kali. Pada akhirnya, jika sudah berusaha keras, berdoa, namun tidak juga memahami ilmu. Lalu kita menyadari bahwa itulah kehendak Allah SWT, maka sesungguhnya kita telah diberikan anugerah yang besar. Dalam Hikam Ibn Atha'illah, juga berkata

متى فتح لك باب الفهم في المنع، صار المنع عين العطاء

Ketika Dia membukakan pintu pemahaman untukmu tentang mengapa engkau tidak diberi, maka hal itu sebenarnya adalah suatu anugerah.

Jadi, bersabarlah dalam thalabul ilmi. Terus saja belajar dan berdoa. Fokus saja pada kewajiban kita. Adapun hasilnya, biarlah Allah yang mengaturnya. Bukanlah sebuah kesalahan ketika sudah belajar tapi tidak juga paham. Yang salah adalah ingin paham tapi tidak mau belajar.

Terakhir, barakatul 'ilmi. Artinya keberkahan ilmu. Berkah tidak selalu banyak. Karena keberkahan itu bermakna bertambah kebaikan (ziyadatul khayr). Jadi, meski sedikit ilmu yang kita pahami, jika membawa kebaikan, maka itulah berkah ilmu. Hatim al-Asham, belajar selama tiga puluh tahun lebih kepada Syaqiq al-Balkhi. Ketika ditanya oleh gurunya, apa saja ilmu yang sudah dicapainya selama ini? Hatim menjawab bahwa dia hanya mendapat delapan ilmu. Lalu dia jelaskan delapan ilmu yang dimaksud. Setelah mendengar penjelasan Hatim, Sang Guru merasa sangat bahagia, karena delapan ilmu yang disebutkan itu telah memberikan keberkahan untuk muridnya.

Sebaliknya, jika banyaknya ilmu yang dipahami tidak menambah kebaikan, maka itu bukanlah berkah, melainkan musibah. Sebab dalam sebuah riwayat Nabi bersabda

من ازداد علما ولم يزدد هدى لم يزدد من الله إلا بعدا.
Barangsiapa bertambah ilmu, tapi tidak bertambah kebaikannya (hidayah), maka dia tidak bertambah apapun, selain bertambah jauh dari Allah SWT.

Walhasil, sedikit ilmu asalkan berkah lebih baik daripada banyak tapi tidak berkah. Tapi kalau bisa banyak ilmu dan berkah, itu tentu lebih baik. Jangan sampai sedikit ilmu, juga tidak berkah. Ini seperti kata pepatah, sudah jatuh ketiban tangga.

والله أعلم بالصواب

Cilodong, 27 Syawwal 1440 H / 30 Juni 2019


Pengasuh Ponpes at-Taqwa Depok
Muhammad Ardiansyah

No comments:

Post a Comment